Tanggung Jawab Berat Penerbit

Hari ini saya mwmbaca sebuah buku tentang “sales”. Buku yang saya baca ini berbahasa Indonesia yang diterbitkan oleh penerbit yang cukup popular. Judul buku ini sangat menarik perhatian, yaitu tentang bagaimana cara gampang untuk meningkatkan sales perusahaan.

Namun sayang beribu sayang, walaupun buku ini diterbitkan oleh penerbit kenamaan, namun kualitas editing dari buku ini bisa di dibilang kurang bermutu. Hal itu saya buktikan ketika membaca bab pertama, banyak paragraf yang tidak nyambung. Pokok-pokok pikiran yang dituangkan di beberapa paragraf di bab pertama tidak nyambung dengan judul. Bahkan terkesan bahasanya muter-muter tidak karuan.

Ini sungguh sangat disayangkan. Mestinya, sebelum naik cetak, penerbit harus memeriksa hasil editing oleh editor. Penerbit harus punya standart operasional untuk meloloskan naskah yang siap cetak. Dan standart naskah siap cetak itu tentu saja harus dari sudut pandang pembaca atau target market. Bagaimanapun juga, kualitas penulisan sebuah buku sangat penting bagi kelanjutan bisnis si penerbit. Jika penerbit mengabaikan hal ini, sungguh disayangkan.

Berkaitan dengan hal ini, saya juga sering menemukan beberapa penerbit yang mengabaikan kualitas penulisan bukunya, khususnya buku-buku terjemah. Saya sering mendapatkan, buku-buku bisnis hasil terjemah dari bahasa Inggris diterjemahkan asal-asalan oleh beberapa penerbit. Penerbit yang mengabaikan kualitas penerjemahan ini biasanya penerbit yang baru. Kalau penerbit kenamaan, biasanya kualitas terjemah sudah lumayan. Walaupun kadang bikin pening juga kepala berusaha untuk memahaminya.

Untuk penerbitan naskah buku hasil terjemah, hendaknya penerbit juga memiliki standart yang ketat. Idealnya sebuah penerbit punya team ahli editor yang menguasai topik buku yang diterjemahkan. Misalnya jika penerbit menerjemahkan buku-buku bisnis, maka harusnya juga memiliki editor yang memahami seluk-beluk bisnis juga. Orang yang jago bahasa Inggris dan ahli menerjemahkan, belum tentu bagus tatkala mwnerjemahkan buku untuk jenis bisnis, jika dia tidak memahami seluk beluk bisnis.

ini menjadi tantangan bagi semua penerbit. Bagaimanapun juga, tulisan adalah media komunikasi. Sungguh sayang jika tulisan dalam bentuk buku tebal sulit dipahami oleh pembacanya. Terlebih pembaca membayar untuk mendapatkan buku yang dibacanya tersebut.

Buku adalah produk bagi sebuah perusahaan pernerbitan. Jika produknya jelek dan tidak memuaskan konsumen, maka lambat laun akan ditinggalkan oleh komsumennya.

 

#freewriting6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top