Pengan Kaya ? Jangan Main Sosmed !

Kalau Anda pernah ikut seminar motivasi di era 90 an, maka Anda akan sering mendengar para motivator mengatakan : “ Kalau Anda ingin sukses, jangan nonton televisi !”. Ya, karena pada masa itu dan sebelumnya televisi menjadi tontonan utama masyarakat dan cukup menyita waktu. Terlebih pada masa itu bermunculan televisi-televisi swasta dengan beraneka ragam acaranya, mengalahkan televisi pemerintah TVRI. Masyarakat pada masa itu seolah mendapatkan hiburan baru yang berlimpah, sehingga rela berada di depan televisi masing-masing berjam-jam dalam sehari.

Acara-acara televisi pada masa itu, sampai sekarang, didominasi oleh tontonan yang tidak mendidik. Sehingga wajar para motivator bisnis menyarankan untuk menghentikan menonton TV, dan menggantinya dengan aktivitas lain seperti membaca buku, menjalankan bisnis, networking, dan kegiatan lain untuk mencapai impiannya

Cerita berlanjut di era intenet sekarang ini. Televisi sudah tergantikan dengan media lain yang lebih seru. Kalau dulu melihat televisi bersifat pasif, karena televisi adalah media satu arah, maka pada zaman ini muncullah media sosial. Data terakhir yang saya ketahui, awal 2017 lalu, pengguna internet mengakses medsos sudah lebih dari tiga jam per hari dan terus bertambah

Jika penonton televisi pasif, maka media sosial memberikan kesempatan bagi penggunanya untuk terlibat aktif. Mereka bisa posting, like, komentar, membaca postingan orang lain, membuat group, dan sebagainya. Intinya, media sosial lumayan membuat pemiliknya super aktif dan bisa menyita waktu.

Coba bayangkan, saat Anda posting atau update status di akun facebook Anda. Waktu yag dibutuhkan untuk posting status singkat hanya sekitar satu menit. Tapi jangan salah, setelah posting urusan Anda belum selesai. Anda akan penasaran apakah postingan Anda tersebut disukai banyak orang, adakah teman-teman Anda yang komentar, dan siapakah yang sudah share ? Akhirnya rasa penasaran Anda tersebut membawa Anda untuk berkali-kali membuka akun Anda untuk melihat postingan tersebut. Jika ternyata postingan  tersebut ramai, maka bisa Anda tebak kelanjutannya, Anda akan disibukkan untuk membalas komentar, like komentar dan pikiran Anda tidak bisa lepas dengan postingan itu beberapa jam kemudian. Dan hal ini wajar, karena memang begitulah seharusnya media sosial. Anda benar-benar harus menjadi manusia ‘sosial’ layaknya di dunia offline. Di dunia offline yang Anda ajak komunikasi bisa dihitung dengan jari. Namun di akun facebook Anda, teman Anda berjumlah ribuan, yang memberikan potensi respon sedemikian besar.

Itu baru satu postingan. Bagaimana jika Anda dalam sehari posting 10 status ? Hari-hari Anda saya yakin penuh dengan kesibukan yang luar biasa. Bagaimana pula jika Anda punya banyak akun sosial media dengan pertemanan atau follower yang banyak ?

Belum lagi aktivitas lain yang biasa Anda lakukan di akun Anda, misalnya scrolling, komentar ke teman, like, dan sebagainya. Benar-benar menyita waktu.

Saya tidak menafikan bahwa sosial media disisi yang lain sangat berguna untuk banyak hal. Saya sendiri sampai detik ini masih menggunakan secara intensif media sosial untuk kepentingan bisnis, dakwah ataupun sekedar menghibur diri dengan aneka informasi menarik di luar sana.

Saya memandangnya media sosial ini seperti pisau tajam. Anda bisa memanfaatkan pisau itu dengan baik, jika Anda siap secara mental dan menggunakannya untuk tujuan yang baik. Namun jika Anda tidak siap mental, dan tidak tahu cara pakainya, maka pisau itu bisa melukai diri sendiri.

Media sosial bisa menjadi sumber utama kegagalan Anda meraih kemajuan. Karena media sosial sangat mudah memecah konsentrasi Anda setiap waktu. Berapa kali saat ini anda mengakses akun sosial media dalam setiap jam ? Jika frekuensi akses medsos per jam nya sudah sedemikian banyak, maka Anda perlu waspada. Itu berarti Anda sudah menjadi pribadi yang tidak bisa fokus. Padahal untuk mencapai sukses butuh fokus.

Salah satu guru saya bisa menjadi contoh yang baik untuk hal ini. Beliau rela ‘puasa’ dari facebook selama 2 tahun agar bisa fokus mengejar bisnis impiannya. Selama 2 tahun dia menutup akun facebooknya dan secara serius membangun bisnisnya dari nol. Hingga akhirnya, 2 tahun kemudian incomenya bisa mencapai lebih dari 300 juta/bulan. Beliau mengetahui bahwa tanpa meninggalkan akun facebooknya, konsentrasinya akan mudah buyar. Dan jika konsentrasinya buyar, maka mustahil dia bisa mencapai impiannya dalam waktu 2 tahun.

Melihat cerita di atas, saya merindukan para motivator untuk berani mengatakan:”Jika Anda ingin kaya, jangan main sosmed!”. Kecuali… untuk yang benar-benar bermanfaat untuk kesuksesan dunia dan akhirat. Dan ini perlu tekad dan perjuangan yang super keras.

Langkah bijak yang perlu Anda lakukan saat ini adalah mengevaluasi sejauh mana Anda menggunakan akun medsos Anda sehari-hari. Sudahkan hal itu memberikan manfaat untuk kehidupan Anda saat ini ? Apa yang akan terjadi 5-10 tahun yang akan datang, jika Anda terus melakukan habit yang selama ini Anda lakukan ? Silahkan direnungkan dan segera putuskan langkah bijak selanjutnya, sebelum Anda menyesal !

 

#FreeWriting27

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top