Bolehkah Bisnis Pakai Feeling ?

Tidak dapat dipungkiri, saat Anda memulai bisnis dan belum mengetahui banyak tentang ilmu bisnis, dalam mengambil keputusan bisnis banyak menggunakan feeling. Misalnya saja saat awal menemtujkam mau bisnis apa, maka feelikg Anda bekerja untuk mencari peluang bisnis yang kira-kira cocok dan sreg dihati.

Demikian juga saat bisnis mulai jalan dan berkembang, berbagai keputusan bisnis masih tetap ditentukan oleh feeling semata. Misalnya saat Anda mencari produk baru, membuka cabang, merekrut karyawan dan swbagainya

Penggunaan feeling dalam mengambil keputusan bisnis disebabkan oleh banyak faktor, antara lain :

  • -Minimnya  pengetahuan bisnis
  • – Organisasi bisnis yang belum tertata dengan baik, atau sistem bisnis belum jalan
  • – Tidak adanya data-data yang secara rapi tersimpan di perusahaan
  • -Karakter dari sang pengusaha sendiri yang lebih suka menggunakan feeling dalam mengambil keputusan

Lalu bagaimana sebenarnya masalah feeling dalam bisnis ini ? Bolehkah Anda menggunakan feeling dalam bisnis ?

Menurut saya pribadi, penggunaan feeling dalam bisnis sah-sah saja. Ini pengalaman pribadi dalam memulai mengembangkan bisnis selama sekitar 15 tahun belakangan ini.

Namun penggunaan feeling dalam pengambilan keputusan bisnis hendaknya mulai dipilah-pilah. Tidak semua hal dalam bisnis bisa diputuskan dengan feeling. Anda tidak lagi bisa menerapkan penggunaan feeling sembarangan sebagaimana yang Anda lakukan di awal-awal memulai bisnis.

Di awal memulai bisnis, Anda memang bisa saja mengambil keputusan bisnis lebih banyak memggunakan feeling. Hal itu wajar saja, karena skala bisnis Anda masih kecil dan sistem organisasi masih sangat sederhana. Keputusan yang salah akibat hanya mempertimbangkan feeling sebagai sumber pengambilab keputusan, bisa segera diatasi dengan cepat.

Kalau boleh jujur, penggunaan feeling semata di awal-awal memulai bisnis, bisa jadi penyumbang kegagalan Anda di bisnis tersebut. Ini yang harus juga diperhatikan. Maka menjadi wajar tingkat kegagalan dalam bisnis sangat besar. Salah satunya bisa jadi disebabkan faktor feeling ini.

Lantas bagaimana ketika bisnis sudah mulai tumbuh, apakah masih boleh menggunakan feeling dalam pengambilan keputusan ? Menurut saya boleh-boleh  saja. Namun sebagaimana yang saya sampaikan di atas, penggunaaan feeling harus mulai dibarengi dengan perangkat lain. Terlebih jika keputusan Anda itu sangat penting, misalnya berkaitan dengan hidup mati perusahaan. Perangkat lain yang saya maksud tidak lain adalah DATA. Data bisa menjadi pendamping utama feeling Anda. Namun hendaknya Anda juga harus jujur dan fair, manakala data tidak sejalan dengan feeling, dan feeling pada posisi yang salah.  maka Anda harus berani memutuskan sesuatu dengan landasan data.

Sebagai contoh, saat Anda ingin mengembangkan bisnis Anda dengan membuka cabang. Penetapan kota mana yang akan menjadi incara Anda untuk membuka cabang harus mempertimbangkan data-data yang ada. Tidak boleh hanya sekedar menggunakan feeling pribadi yang bisa jadi salah. Anda boleh suka dengan sebuah kota, karena mungkin kota itu adalah tempat lahir Anda. Dan feeling Anda mengatakan bahwa membuka cabang di kota tersebut akan sangat bagus dengan bisnis Anda. Namun kenyataannya, berdasarkan data yang ada, kota kelahiran Anda tersebut tidak cocok dengan bisnis Anda. Maka Anda harus mengabaikan feeling dan harus menggunakan data.

Pebisnis yang berpengalaman dan memiliki jam terbang yang banyak, secara otomatis memiliki feeling yang lebih tajam. Namun, lagi-lagi feeling harus tetap dibarengi dengan akurasi data. Jangan biarkan feeling mengantarkan Anda menuju kegagalan bisnis. Justru sebaliknya, jadikan feeling sebagai langkah awal meraih sukses bisnis,  dengan cara menyediakan data yang memadai untuk pengambilan keputusan

Demikianlah masalah penggunaan feeling dalam bisnis. Feeling masih menjadi faktor penting kesuksesan bisnis, namun harus dibarengi dengan data-data pendamping untuk mengujinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top